Elusidasi Struktur Senyawa Organik Pdf Editor

41 26 senyawa produk. Namun warna kuning yang tampak serta tidak munculnya noda lain pada daerah Rf anilina, mengasumsikan kemungkinan telah terbentuknya senyawa target. Setelah proses monitoring, masing-masing produk selanjutnya diuji lebih lanjut menggunakan metode spektrofotometri FTIR untuk mengetahui gugus fungsi yang ada.

Elusidasi Struktur Senyawa Metabolit Sekunder Kulit Batang Surian (Toona sinensis) Meliaceae dan Uji Aktivitas Insektisida. Elusidasi Struktur Senyawa Organik.

4.3 Analisis Produk dengan Metode Spektrofotometri FTIR Analisis FTIR kelima produk yang dihasilkan, dilakukan dengan menggunakan metode pelet KBr. Pembacaan pita serapan dilakukan pada bilangan gelombang cm -1, dimana pada daerah tersebut umumnya serapan vibrasi gugus fungsi seringkali terjadi. Hasil analisis FTIR adalah suatu spektogram dari masing-masing produk dengan pita-pita serapan atau spektraspektra yang selanjutnya akan diidentifikasi gugus fungsinya berdasarkan pada literatur yang telah ada Identifikasi Spektra FTIR Produk 1 (katalis 0,5 ml) Gambar 4.3 Spektogram produk 1 hasil analisis FTIR 42 27 Hasil spekta IR pada Gambar 4.2 menunjukkan adanya gugus OH yang memunculkan pita serapan melebar yang khas pada daerah cm -1. Rentangan gugus C-H sp2 aromatik memunculkan pita serapan lemah pada 3091 cm -1, Ini didukung dengan adanya serapan pada 1515 cm -1 yang menunjukkan adanya gugus C=C aromatik. Serapan lemah pada 2935 cm -1 adalah akibat oleh rentangan C-H sp3 dan didukung oleh adanya gugus metil (-CH 3 ) di pita serapan 1428 cm -1 (Purwono dkk., 2013). Munculnya serapan kuat pada daerah 1285 dan 1030 cm -1 menunjukkan adanya gugus C-O-C eter (Ibrahim et al, 2006). Terbentuknya gugus imina (-C=N-) ditunjukkan oleh serapan kuat pada daerah 1584 cm -1 (Naqvi et al, 2009).

Pita serapan di derah 876 dan 813 cm -1 menunjukkan adanya senyawa aromatik tersubtitusi (Lambert, 1987) Identifikasi Spektra FTIR Produk 2 (katalis 1,0 ml) Gambar 4.4 Spektogram produk 2 hasil analisis FTIR Hasil spekta IR menunjukkan adanya gugus OH yang memunculkan pita serapan melebar yang khas pada daerah cm -1. Rentangan gugus C-H sp2. 43 28 aromatik memunculkan pita serapan lemah pada 3089 cm -1, Ini didukung dengan adanya serapan pada 1515 cm -1 yang menunjukkan adanya gugus C=C aromatik. Serapan lemah pada 2937 cm -1 adalah akibat oleh rentangan C-H sp3 dan didukung oleh adanya gugus metil (-CH 3 ) di pita serapan 1428 cm -1 (Purwono dkk., 2013). Munculnya serapan kuat pada daerah 1285 dan 1030 cm -1 menunjukkan adanya gugus C-O-C eter (Ibrahim et al, 2006). Terbentuknya gugus imina (-C=N-) ditunjukkan oleh serapan kuat pada daerah 1584 cm -1 (Naqvi et al, 2009). Pita serapan di derah 876 dan 812 cm -1 menunjukkan adanya senyawa aromatik tersubtitusi (Lambert, 1987) Identifikasi Spektra FTIR Produk 3 (katalis 1,5 ml) Gambar 4.5 Spektogram produk 3 hasil analisis FTIR Hasil spekta IR menunjukkan adanya gugus OH yang memunculkan pita serapan melebar yang khas pada daerah cm -1.

Rentangan gugus C-H sp2 aromatik memunculkan pita serapan lemah pada 3086 cm -1, Ini didukung dengan adanya serapan pada 1515 cm -1 yang menunjukkan adanya gugus C=C aromatik. 44 29 Serapan lemah pada 2937 cm -1 adalah akibat oleh rentangan C-H sp3 dan didukung oleh adanya gugus metil (-CH 3 ) di pita serapan 1428 cm -1 (Purwono dkk., 2013). Munculnya serapan kuat pada daerah 1285 dan 1030 cm -1 menunjukkan adanya gugus C-O-C eter (Ibrahim et al, 2006). Terbentuknya gugus imina (-C=N-) ditunjukkan oleh serapan kuat pada daerah 1584 cm -1 (Naqvi et al, 2009). Pita serapan di derah 875 dan 812 cm -1 menunjukkan adanya senyawa aromatik tersubtitusi (Lambert, 1987) Identifikasi Spektra FTIR Produk 4 (katalis 2,0 ml) Gambar 4.6 Spektogram produk 4 hasil analisis FTIR Hasil spekta IR menunjukkan adanya gugus OH yang memunculkan pita serapan melebar yang khas pada daerah cm -1. Rentangan gugus C-H sp2 aromatik memunculkan pita serapan lemah pada 3089 cm -1, Ini didukung dengan adanya serapan pada 1516 cm -1 yang menunjukkan adanya gugus C=C aromatik.

Serapan lemah pada 2938 cm -1 adalah akibat oleh rentangan C-H sp3 dan didukung oleh adanya gugus metil (-CH 3 ) di pita serapan 1428 cm -1 (Purwono dkk., 2013). 45 30 Munculnya serapan kuat pada daerah 1285 dan 1030 cm -1 menunjukkan adanya gugus C-O-C eter (Ibrahim et al, 2006). Terbentuknya gugus imina (-C=N-) ditunjukkan oleh serapan kuat pada daerah 1584 cm -1 (Naqvi et al, 2009). Pita serapan di derah 876 dan 813 cm -1 menunjukkan adanya senyawa aromatik tersubtitusi (Lambert, 1987) Identifikasi Spektra FTIR Produk 5 (katalis 2,5 ml) Gambar 4.7 Spektogram produk 5 hasil analisis FTIR Hasil spekta IR menunjukkan adanya gugus OH yang memunculkan pita serapan melebar yang khas pada daerah cm -1. Rentangan gugus C-H sp2 aromatik memunculkan pita serapan lemah pada 3086 cm -1, Ini didukung dengan adanya serapan pada 1515 cm -1 yang menunjukkan adanya gugus C=C aromatik. Serapan lemah pada 2937 cm -1 adalah akibat oleh rentangan C-H sp3 dan didukung oleh adanya gugus metil (-CH 3 ) di pita serapan 1428 cm -1 (Purwono dkk., 2013). Munculnya serapan kuat pada daerah 1285 dan 1030 cm -1 menunjukkan adanya gugus C-O-C eter (Ibrahim et al, 2006).

Terbentuknya gugus imina ( C=N) 46 31 ditunjukkan oleh serapan kuat pada daerah 1584 cm -1 (Naqvi et al, 2009). Pita serapan di derah 875 dan 812 cm -1 menunjukkan adanya senyawa aromatik tersubtitusi (Lambert, 1987). 4.4 Penentuan Produk Sintesis Terbaik Penentuan produk hasil sintesis terbaik (berdasarkan variasi volume katalis air jeruk nipis), perlu dilakukan untuk mengetahui produk dengan perlakuan mana yang lebih unggul. Berdasarkan rangkuman hasil interpretasi spektra IR pada Tabel 4.3, menunjukkan bahwa kelima senyawa ini memiliki spektra IR yang sangat mirip. Pita-pita serapan yang muncul juga memiliki bilangan gelombang yang berbeda sangat tipis dengan bentuk yang ekuivalen.

Jadi dapat disimpulkan bahwa spektra IR yang dihasilkan oleh kelima produk (produk 1 5) adalah identik atau sama. Dengan hilangnya pita serapan gugus karbonil ( C=O) dari vanilin pada 1666 cm -1 serta terbentuknya pita serapan gugus imina ( C=N) pada panjang gelombang 1584 cm -1, maka diduga kuat senyawa target (2-metoksi-4- ((fenilimino)metil)fenol) telah berhasil terbentuk pada kelima produk yang dihasilkan dari lima variasi perlakuan.

Tabel 4.3 Gugus fungsi dan bilangan gelombang (ῡ) produk 1-5 ῡ P1 (cm -1 ) ῡ P2 (cm -1 ) ῡ P3 (cm -1 ) ῡ P4 (cm -1 ) ῡ P5 (cm -1 ) Gugus Fungsi OH C-H sp C=C aromatik C-H sp metil (-CH 3 ) 1285 dan dan dan dan dan 1030 Eter (C-O-C) (-C=N-) 876 dan dan dan dan dan 812 aromatik tersubtitusi 47 32 Keberhasilan suatu reaksi dapat ditentukan dari besarnya nilai rendemen yang didapatkan setelah proses pemurnian. Nilai rendemen dari beberapa variasi volume katalis air jeruk nipis disajikan pada Tabel 4.4: Tabel 4.4 Nilai rendemen produk tiap variasi volume katalis Nama Produk Volume Katalis Air Jeruk Nipis Rendemen P5 2,5 ml 36,8229% P4 2,0 ml 40,8469% P3 1,5 ml 48,5766% P2 1,0 ml 60,9847% P1 0,5 ml 64,1234% Data pada Tabel 4.4 menunjukkan bahwa nilai rendemen tertinggi terdapat Produk 1 dengan variasi katalis 0,5 ml. Jadi dapat dikatakan bahwa metode Green synthesis senyawa imina antara vanilin dan anilina terbaik adalah dengan menggunakan katalis air jeruk nipis sebanyak 0,5 ml. Nilai rendemen yang dihasilkan sebesar 64,1234%.

Hasil Rendemen terbaik selanjutnya dikarakterisasi lebih lanjut menggunakan instrumen KG-SM. 4.5 Karakterisasi Produk Terbaik (Produk 1) Menggunakan KG-SM Analisis dengan Kromatografi Gas (KG) menghasilkan suatu kromatrogam yang memberikan informasi jumlah senyawa yang dapat dipisahkan dari sampel produk 1 yang telah dimasukkan. Gambar 4.8 menunjukkan bahwa KG berhasil memisahkan empat senyawa dari produk 1.

Empat senyawa ini terwakili oleh empat puncak yang muncul pada kromatogram yang disajikan pada Gambar 4.8 beserta persentase luas area dan waktu retensi (Rt) pada Tabel 4.5. 48 33 Gambar 4.8 Kromatogram hasil KG Produk 1 Tabel 4.5 Persentase luas area tiap puncak kromatogram Puncak Luas Area (%) Rt (menit) 1 9,57 10,85 14,84 24,74 41,564 Total 100% - Berdasarkan nilai persentase luas area tiap puncak pada Tabel 4.5, terdapat empat puncak utama yakni puncak 1, 2, 3, dan 4.

Puncak 1 dengan waktu retensi 10,347 menit dan persentase luas area 9,57% memiliki spektra massa yang tersaji pada Gambar 4.9. Gambar 4.9 Spektra massa Puncak 1 Hasil penelusuran library, diketahui bahwa spektra massa anilina (Lampiran 2) memiliki indeks kemiripan 96% terhadap spektra puncak 1. Spektra massa pada Gambar 4.9 menunjukkan bahwa nilai m/z 93 merupakan puncak dasar sekaligus puncak ion molekular dengan kelimpahan relatif sebesar 100%. 49 34 Nilai m/z 93 merupakan nilai yang sesuai dengan berat molekul anilina.

Hal ini juga didukung oleh pola fragmentasi sebagaimana ditampilkan pada Gambar e NH 2 NH 2 m/z = 93 HC N m/z = 66 H H H H H NH m/z = 65 m/z = 92 Gambar 4.10 Pola fragmentasi senyawa anilina Anilina merupakan zat reaktan yang masih tersisa setelah proses sintesis. Senyawa anilina seharusnya sudah tidak ada dalam Produk 1 karena proses pemurnian telah dilakukan. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pemurnian yang telah dilakukan masih kurang optimal.

Penyebabnya bisa karena pemilihan pelarut, perbandingan volume pelarut, suhu pengendapan, dan lama waktu pengendapan. Puncak 2 dengan waktu retensi 14,828 menit dan persentase luas area 1,85% memiliki spektra massa pada Gambar Gambar 4.11 Spektra massa Puncak 2 Hasil penelusuran library (Lampiran 2) menunjukkan bahwa tidak ada spektra massa yang sesuai dengan spektra Puncak 2. Spektra massa pada Gambar 4.11 menunjukkan bahwa nilai m/z 118 merupakan puncak dasar dengan kelimpahan relatif sebesar 100%. Puncak ion molekular berada pada puncak m/z 50 Nilai ini (m/z 133) merupakan nilai yang sangat mirip dengan berat molekul senyawa N-(propan-2-ilidin)benzenamina. Senyawa ini diduga merupakan hasil dari reaksi pembentukan imina antara anilina dengan aseton menurut persamaan reaksi pada Gambar 4.12: O O H O H H 3 C CH 3 H 3 C C CH 3 NH 2 H 3 C HN C CH 3 H H 3 C C CH 3 HN H2 O H 3 C C CH 3 N H H C N Gambar 4.12 Mekanisme reaksi pembentukan N-(propan-2-ilidin)benzenamina Senyawa tersebut merupakan hasi samping (by product) yang tidak diharapkan terbentuk, sebab aseton adalah cairan yang digunakan untuk membersihkan sisasisa air dalam alat-alat gelas (erlenmeyer, pipet, gelas beaker dll.) setelah proses pencucian.

Terbentuknya senyawa N-(propan-2-ilidin)benzenamina juga didukung oleh pola fragmentasi sebagaimana ditampilkan pada Gambar H 3 C CH 3 H 3 C CH 3 H 3 C H 3 C C N C -e CH3 N C N C N N C CH 3 m/z = 133 m/z = 118 m/z = 77 Gambar 4.13 Pola fragmentasi senyawa N-(propan-2-ilidin)benzenamina Puncak 3 dengan waktu retensi 24,405 menit dan persentase luas area 13,84% memiliki spektra massa yang tersaji pada Gambar 4.14. 51 36 Gambar 4.14 Spektra massa Puncak 3 Hasil penelusuran library, diketahui bahwa spektra massa vanilin (Lampiran 2) memiliki indeks kemiripan 95% terhadap spektra Puncak 3. Spektra massa pada Gambar 4.12 menunjukkan bahwa nilai m/z 151 dengan kelimpahan relatif sebesar 100% merupakan puncak dasar. Puncak ion molekular berada pada m/z 152.

Nilai m/z 152 merupakan nilai yang sesuai dengan berat molekul vanilin. Hal ini juga didukung oleh pola fragmentasi sebagaimana ditampilkan pada Gambar Pola Fragmentasi yang lain: Gambar 4.15 Pola fragmentasi vanilin 52 N N N N 37 Vanilin juga merupakan zat reaktan yang masih tersisa setelah proses sintesis. Sama dengan anilina, vanilin seharusnya juga sudah hilang dari Produk 1 setelah proses pemurnian dilakukan. Hal ini juga mengindikasikan bahwa proses pemurnian yang telah dilakukan masih kurang optimal. Puncak 4 dengan waktu retensi 41,567 menit dan persentase luas area 74,74% memiliki spektra massa yang tersaji pada Gambar Gambar 4.16 Spektra massa Puncak 4 Spektra massa pada Gambar 4.16 menunjukkan bahwa nilai m/z 227 dengan kelimpahan relatif sebesar 100% merupakan puncak dasar sekaligus puncak ion molekular. Berdasarkan penelusuran library, tidak ditemukan spektra senyawa yang sesuai dengan puncak 4. Namun nilai m/z 227 merupakan nilai yang sesuai dengan bentuk ion molekular (M.+ ) dari senyawa target yaitu 2-metoksi-4- ((fenilimino)metil)fenol.

Pola fragmentasi yang tersaji pada Gambar 4.17 juga menguatkan dugaan bahwa puncak 4 merupakan senyawa target sintesis. MeO MeO HO H C -e HO H C m/z = metoksi-4-((fenilimino)metil)fenol O H 3 C O H ion molekuler CH3 HO C HO C m/z = 211 m/z = 226 53 N N N N N N 38 Pola fragmentasi yang lain: MeO H 2 C O HO H C -e H HO H C m/z = metoksi-4-((fenilimino)metil)fenol ion molekuler H CH2 O HO H C m/z = 197 Pola fragmentasi yang lain: MeO MeO HO H C -e HO H C 2-metoksi-4-((fenilimino)metil)fenol ion molekuler MeO m/z = 227 HO HCN HC m/z = 77 m/z = 104 Gambar 4.17 Pola fragmentasi senyawa 2-metoksi-4-((fenilimino)metil)fenol Puncak 4 atau puncak senyawa target memiliki jumlah luas area tertinggi yaitu 74,74%.

Jadi di dalam 100% rendemen hasil sintesis, terkandung 74,74% senyawa target 2-metoksi-4-((fenilimino)metil)fenol serta 25,26% pengotor meliputi 9,57% anilin; 13,84% vanilin; dan 1,85% by product. Dengan demikian prosentase (%) hasil reaksi dapat diketahui yaitu 74,74% dari jumlah rendemen terbaik yang didapat (64,1234%), yakni sebesar 47,9258%. 54 Tinjauan Green Chemistry dalam Islam Sintesis kimia juga merupakan unit bidang kimia yang mempunyai potensi besar untuk mencemari lingkungan, sebab keberadaan limbah merupakan hal wajar dalam proses produksi. Misalkan proses produksi senyawa imina sebagai obat antibakteri dalam suatu industri farmasi mempunyai nilai efektifitas produksi sebesar 80%.

Pada saat produksi, metode sintesis yang digunakan adalah metode konvensional yang membutuhkan pelarut kloroform dengan perbandingan reaktan: pelarut = 1:10. Maka dalam produksi 1000 g senyawa imina akan dihasilkan 200 g limbah reaktan serta g limbah pelarut. Apabila industri tersebut membuat 2000 g senyawa imina per hari, maka dalam satu bulan saja, akan dihasilkan setidaknya g limbah reaktan dan g limbah pelarut. Limbah-limbah tersebut merupakan zat-zat kimia berbahaya yang dapat merusak lingkungan apabila dibuang langsung tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Adanya metode sintesis ramah lingkungan merupakan solusi sintesis yang baik dalam kaitannya menjaga lingkungan. Allah dengan tegas melarang umat manusia untuk berbuat kerusakan lingkungan. Firman Allah di dalam surat al A raf: 56 mengatakan: و ال ت ف س د وا ف ي ا أل ر ض ب ع د إ ص ال ح ه ا Artinya: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.

Al A raf: 56) Lebih lanjut Allah menegaskan dalam surat al Baqarah ayat 60: ل ا و اا ب ا ي رر اال لو و ال ت ع ا ف ي األ ر ض ف س د ي 55 40 Artinya: Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. Al Baqarah: 60) Manusia tidak dapat hidup tanpa adanya alam semesta. Allah memperkenankan kita untuk memanfaatkan alam untuk memenuhi kehidupan kita, seperti makan, minum, atau mencari nafkah.

Tetapi kita dilarang untuk merusaknya. Larangan ini mengandung makna dalam tentang betapa besarnya kasih sayang Allah kepada umat manusia. Larangan bertujuan agar manusia dapat menjaga keseimbangan alam dengan baik, sehingga manusia dapat hidup lebih lama di bumi.

Sifat dari alam semesta ini adalah tidak kekal (fana ). Peristiwa alamiah yang terjadi di alam semesta ini (gempa, gunung meletus, tsunami, dll.) selalu menuju pada kerusakan yang irreversibel dengan peningkatan entropi yang lebih tinggi (hukum termodinamika II). Untungnya Allah memberikan kita nikmat berupa hari kiamat, sehingga kita tidak sampai merasakan seramnya kehancuran dunia. Manusia dapat berperan aktif untuk mempercepat atau memperlambat datangnya hari kiamat dengan cara merusak atau menjaga alam semesta ini.

Di dalam sudut pandangan ilmu fiqih, larangan Allah dalam surat al A raf ayat 56 dan al-baqarah 60, dapat dijadikan sebagai dasar yang kuat untuk menarik suatu hukum. Larangan dalam kaidah ushul fiqih dikenal dengan istilah an-nahyu Terdapat dua kaidah ushul fiqih yang sesuai untuk menarik suatu hukum.(النهي) dari dua firman Allah tersebut, yaitu (Hakim, 1927): األصل فى اانهى التح م Hukum asal dalam suatu larangan menunjukkan arti haram. اانهى ع ي ااشيئ أ ب ضده 56 41 Larangan terhadap sesuatu berarti perintah kebalikannya.

Dua kaidah ini apabila diaplikasikan ke dalam firman Allah tentang larangan merusak lingkungan maka akan didapatkan hukum sementara bahwa merusak lingkungan adalah haram dan menjaga lingkungan adalah wajib. Larangan keras merusak lingkungan juga disampaikan oleh Rasulullah Saw. Dalam hadis yang berbunyi: ع ي س ع ي د ب ي د رضي اهلل عنو قال س م ع ت ر س ل اال لو ص ل لى اال لو ع ل ي و و س ل لم ق ل ي ي س ب ع أ ر ض ي ي )رواه اابخاري) ظ ل م ي األ ر ض ا ي ئ ا ط رق و Artinya: Dari Sa id ibn Yazid ra ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Barang siapa melakukan kezhaliman terhadap sesuatu pun dari bumi, niscaya Allah akan membalasnya dengan borgolan tujuh kali bumi yang ia zhalimi. Di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 33 ayat (3) juga dituliskan bahwa, Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. Lebih lanjut Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Di dalam Pasal 97 disebutkan bahwa, 'Tindak pidana dalam undangundang ini merupakan kejahatan'. Bagi orang yang dengan sengaja merusak lingkungan akan dipenjara maksimal 10 tahun dan dikenakan denda paling banyak 10 milyar. Dengan adanya dasar-dasar hukum tersebut, maka dapat diambil dua buah kesimpulan hukum yaitu: 1. Merusak lingkungan hukumnya haram 2. Menjaga lingkungan hukumnya wajib 57 42 Green Chemistry adalah suatu upaya untuk menciptakan kegiatan kimia yang ramah lingkungan. Aspek green chemistry adalah meminimalisasi zat berbahaya, optimalisasi penggunaan katalis, penggunaan reagen yang tidak beracun, penggunaan sumber daya yang dapat diperbaharui, penggunaan pelarut yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang.

Green chemistry bertujuan mengembangkan proses kimia dan produk kimia yang ramah lingkungan (Ulfah dkk, 2013). Green chemistry adalah pemikiran mengenai kimia untuk menyelamatkan lingkungan dari pencemaran.

Green chemistry bukanlah cabang ilmu kimia baru, tetapi cara pandang atau strategi dalam kaitannya memanfaatkan kimia yang ramah lingkungan. Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis suatu senyawa 2- metoksi-4-((fenilimino)metil)fenol yang ramah lingkungan atau biasa disebut green synthesis. Upaya green synthesis yang digunakan adalah proses sintesis yang bebas dari pelarut (free solvent) serta penggunaan katalis asam alami dari air buah jeruk nipis. Semoga green synthesis ini dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan dengan cara meminimalisis limbah proses sintesis seperti pelarut serta katalis yang berbahaya. Menjaga lingkungan adalah suatu kewajiban, maka upaya mengembangkan green synthesis juga merupakan suatu kewajiban bagi segenap kimiawan, terutama kimiawan muslim.

58 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Jumlah katalis air buah jeruk nipis terbaik dalam reaksi pembentukan imina tanpa pelarut antara vanilin dan anilina adalah 0,5 ml. Produk terbaik yang dihasilkan memiliki sifat fisik berupa padatan, berwarna kuning, titik lebur = 150 C o, dan rendemen sebesar 64,1234% dengan nilai kemurnian sebesar 74,74%. Produk memiliki spektra IR khas senyawa imina (C=N) pada 1584 cm -1. Spektra Massa m/z 227 (M.+ ) muncul sebagai puncak ion molekuler senyawa target sintesis 2-metoksi-4- ((fenilimino)metil)fenol. Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang metode pemurnian yang baik, waktu reaksi terbaik, variasi jumlah katalis di bawah 0,5 ml, agar didapatkan rendemen yang lebih baik dengan tingkat kemurnian lebih tinggi. Perlu juga dilakukan penelitian menggunakan asam sitrat buatan sebagai katalis pembanding.

Perlu dilakukan penelitian untuk menentukan eluen yang sesuai saat monitoring menggunakan plat KLT. 43 59 DAFTAR PUSTAKA Anatas, P. Dan Warner, J.C Green Chemistry. Oxford University Press: New York. Budimarwanti, C Sintesis Senyawa Bibenzil Dari Bahan Awal Vanilin Melalui Reaksi Wittig Dan Hidrogenasi Katalitik Prosiding. Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA Universitas Negeri Yogyakarta. Chatwal, G Spectroscopy Atomic and Molecule.

Himalaya Publishing House, Bombay Day, Jr. Dan Underwood, A.L Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. Fitarosana Pengaruh Pemberian Larutan Ekstrak Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia) Terhadap Pembentukan Plak Gigi. Laporan akhir hasil penelitian program pendidikan sarjana kedokteran Fakultas kedokteran Universitas diponegoro.

Ermawati, D Pengaruh Penggunaan Ekstrak Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia Swingle) Terhadap Residu Nitrit Daging Curing Selama Proses Curing skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: 22 Tahun 2011 Tentang Pertambangan Ramah Lingkungan. Fessenden, R.J. Dan Fessenden, J.S Kimia Organik.

Edisi ketiga. Erlangga, Jakarta. Fessenden, R.J. Dan Fessenden, J.S Kimia Organik. Edisi ketiga.

Erlangga, Jakarta. Hakim, A.H as-sullam, Bagian 2. Jakarta: Sa diyah Putra Pustaka. Handayani, S; Arianingrum, R dan Haryadi, W Vanillin Structure Modification of Isolated Vanilla Fruit (Vanilla Planifolia Andrews) to form Vanillinacetone.

Proceedings at 14th Asian Chemical Congress Page Hart, H; Craine, L.E dan Hart, D.J Kimia Organik, Suatu Kuliah Singkat, edisi XI, Jakarta: Erlangga Hussain, Z; Yousif, E; Ahmed, A and Altaie, A. Synthesis and Characterization of Schiff's Bases of Sulfamethoxazole. Organic and Medicinal Chemistry Letters. A springer open journal. 44 60 45 Ibrahim, M.N; Hamad, K.J and Al-Joroshi, S.H Synthesis and Characterization of Some Schiff Bases.

University of Garyounis, Benhazi, Libya. Published by: Asian Journal of Chemistry. Khopkar, S.M Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.

Kumar, R; Sharma, P.K and Mishra, P.S A Review on the Vanillin Derivatives Showing Various Biological Activities. International Journal of PharmTech Research, Vol.4, No.1, page Lambert, J.B Introduction to organic spectroscopy. New York: Macmillan. Mobinikhaledi, A; Forughifar, N and Mehdi Kalhor An Efficient Synthesis of Schiff Bases Containing Benzimidazole Moiety Catalyzed by Transition Metal Nitrates. University of Arak, Dr. Beheshti Ave, Arak-IRAN.

Mhaske, G; Nilkanth, P; Auti, A; Davange, S and Shelke, S Aqua Medicated, Microwave Assisted, Synthesis of Schiff Bases and Their Biological Evaluation. International Journal of Innovative Research in Science, Engineering and Technology (IJIRSET). College, Kopargaon, Dist-Ahmednagar (MS), India.

ISSN: Naqvi, A; Hahnawaaz, M; Rao, A.V; Seth, D.S and Sharma, N.K Synthesis of Schiff Bases via Environmentally Benign and Energy-Efficient Greener Methodologies. John's College, Agra, India. E-Journal of Chemistry. Patil, S; Jadhav, S.D and Mane, S.Y Pineapple Juice as a Natural Catalyst: An Excellent Catalyst for Biginelli Reaction. Scientific Research Library.

Organic Research Laboratory, PDVP College, Tasgaon, Sangli, India. Patil, S; Jadhav, S.D and Deshmukh, M.B Natural Acid Catalyzed Multicomponent Reactions as a Green Approach. Scholars Research Library. Organic Research Laboratory. Patil, S; Jadhav, S.D and Patil, U.P Natural Acid Catalyzed Synthesis of Schiff Base under Solvent-free Condition: As a Green Approach. Scholars Research Library.

PDVP College, Tasgaon, Sangli, India. Purwono, B; Anwar, C dan Hanapi, A Syntheses Of Azo-Imine Derivatives From Vanillin As An Acid Base Indicator. Volume 13 (1). M; Ali, R; Jahng, Y and Kadi, A.A. A Facile Solvent Free Claisen-Schmidt Reaction: Synthesis of α,α -bis-(substituted-benzylidene) cycloalkanones and α,α -bis-(substituted-alkylidene)cycloalkanones. Author to whom correspondence should be addressed; Tel; Fax: 61 46 Rohman, A dan Gandjar, I.G Analisis Obat Secara Spektrofotometri dan Kromatografi.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar Rublein, Kurt The Reaction of Benzaldehyde and Aniline. Organic Instructional Laboratories Exp't 17, 2/1/95 Revised 6/30/98. Sarwono, B Khasiat dan Manfaat Jeruk Nipis. Jakarta: Agromedia Pustaka; Sastrohamidjojo, H Spektroskopi.

Yogyakarta: Liberty. Setiadi, M.I Sintesis Maltovanilat Melalui Mekanisme Steglich Menggunakan Pelarut Aseton skripsi. UI: Jurusan Kimia FMIPA. Shyamala, B.N; Naidu, M; Sulochanamma, G.S and Srinivas, P Studies on the antioxidant activities of natural vanilla extract and its constituent compounds through in vitro models. Journal of Agricultural and Food Chemistry, Volume 55, Silverstein, R.M; Webster, F.X; and Kiemle, D.J Spectrometric Identification of Organic Compounds. Hoboken: John Willey & Sons Inc.

Supratman, U Elusidasi Struktur Molekul Organik. Bandung: Widya Pajajaran Tessler, D.K and Nelson. P.E Fruit and Vegetables juice Processing Technologi. The AVI Pubhlising Company. Ulfah, M; Rahayu, P dan Dewi, L.R Konsep Pengetahuan Lingkungan Green Chemistry Pada Program Studi Pendidikan Biologi. Seminar Nasional X Pendidikan Biologi FKIP UNS. Undang-Undang Republik Indonesia.

Nomor 32 tahun Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Y; Zangade, S. B A one pot synthesis of 1,3-benzoxazines from schiff s bases. Pelagia Research Library.

Der Pharmacia Sinica. Yadav, G dan Mani, J.V Green Synthesis of Schiff Bases by Using Natural Acid Catalysts. International Journal of Science and Research (IJSR). Zarei, M dan Jarrahpour, A Green and efficient synthesis of azo Schiff Bases. Iranian Journal of Science & Technology.

Icom ic f11 programming software. Chem., 2013, 13 (1), 1-6 Fig 2. Color change of solution of 4-hydroxy-3-methoxy- 5-(phenylazo)benzaldehyde (2) at various buffer solution with ph 2 13 Fig 4. Color change of solution of 2-methoxy-6- (phenylazo)-4-((phenylimino)methyl)phenol 1 at various buffer solution with ph 2 13 Fig 3. Color change of solution of 2-methoxy-4- ((phenylimino)methyl)phenol 3 at various buffer solution with ph 2 13 ph 7 9 and light green at ph 10. The color change of buffer solution at various ph after addition of solution of compound 1 showed light brown at ph 10.

Color change with indicator compounds 3, and B color change with indicator compound 1 Based on this color change examination, compound 1 and 3 will be further examined for acidbase titration indicator compounds. Compound 2 failed to give sharp color change at range 1 2 ph scale as a Bambang Purwono et al. Chem., 2013, 13 (1), Table 2. Color stability after equivalent point for NaOH solution titrated by H 2 C 2 O 4 solution Concentration (M) Indicator compound 1 Indicator compound 3 Color Color stability NaOH H 2C 2O 4 Color Change Color Change stability (second) (second) Orange to Yellow Orange to Yellow -Oranye to Yellow Permanent Permanent -Permanent Light green to Yellowish - Light green to Yellowish Light green to Yellowish Light green to Yellowish Table 3. Results of NaOH titration with H 2 C 2 O 4 solution (0.05 M) using phenolphthalein, compound 3 and 1 as titration indicators Indicator compounds Average Volume of H 2C 2O 4 solution (ml) ± S.D Color change 2-methoxy-6-(phenylazo)-4- ((phenylimino)methyl)phenol (1) 4.87 ± 0.06 Orange to Yellow (Fig.

5B) 2-methoxy-4-((phenylimino)- methyl)phenol (3) Phenolphthalein 4.83 ± ± 0.06 Light green to Yellowish (Fig. 5.A) Pink to colorless titration indicator ph. Compound 1 will be tried for equivalent point at ph 6-8 in acid-base titration while compound 3 will be examined for equivalent point at ph 7 9. Color Stability Test Color stability was conducted by determining of discoloration time at equivalent point in titration. Since range of ph giving color change between 6 8 for compound 1 and 7-9 for compound 3, titration of NaOH solution with H 2 C 2 O 4 solution will be chosen for examination of color stability at equivalent point. Various concentration both solutions has also been varied. Result of color stability of equivalent point for titration of NaOH solution with H 2 C 2 O 4 solution has been recorded in Table 2.

From the Table 2, indicator compound 1 showed color stabilization up to 0.5 M in this experiment. Compound 3 did not show color stabilization on equivalent point for range H 2 C 2 O 4 concentration of M (short color stabilization less then 10 sec) but the color is stable enough for concentration up to 0.1 M. Application as an Acid-Base Titration Indicator Application of compound 1 and 3 as a titration indicator will be compared with standard indicator phenolphthalein in titration of NaOH solution with H 2 C 2 O 4 solution (0.05 M). The color change for titration was shown in figure 5 and result of titration has been written in Table 3. Table 3 indicated that target compound 1 can be used as a acid-base titration indicators with same accuracy with phenolphthalein. For compound 3 has accuracy less than 0.81% compared with standard indicator of phenolphthalein. CONCLUSION The target compound 1 could be synthesized by reaction of vanillin with diazotitation then imine formation giving 2-methoxy-6-(phenylazo)-4- ((phenylimino)methyl)phenol.

The target compound 1 could be used as titration indicator for titration of NaOH with H 2 C 2 O 4 with same result using phenolphthalein indicator. REFERENCES 1. Purwono, B., and Mahardiani, 2009, Indo.

Chem., 9, 1, Khan, P.A. And Farooqui, M., 2011, J. Res., 2, 4, Kirkan, B., and Gup, R., 2008, Turk.

Chem., 32, Al-Rubaie, L.A., and Mhessn, R.J., 2012, E-J. Chem., 9, 1, Carofiglio, T., Fregonese, C., Mohr, G.J., Rastrelli, F., and Tonellato, U., 2006, Tetrahedron, 62, Makedonski, P., Brandes, M., Grahn, W., Kowalsky, W., Wichern, J., Wiese, S., and Johannes, H-H, 2004, Dyes Pigm., 61, 2, Hinks, D., Freeman, H.S., Arai, Y., and Ando, H., 2001, Dyes Pigm., 48, 1, Bambang Purwono et al. Chem., 2013, 13 (1), Khalil, R.A., Jalil, A.H., and Abd-Alrazzak,A.Y., 2009, J. Soc., 6, 2, Ibrahim, M.N., and Sharrif, S.A.I., 2011, E-J. Chem., 8, 1, Noroozi-Pesyan, N., Khalafy, J., and Malekpoor, Z., 2009, Prog.

Color Colorants Coat., 2, 1, Huang, Z., Wan, D., and Huang, J., 2001, Chem. Lett., Bambang Purwono et al. 73 Available online at Scholars Research Library Archives of Applied Science Research, 2012, 4 (2): ( ISSN X CODEN (USA) AASRC9 Natural Acid Catalyzed Synthesis of Schiff Base under Solvent-free Condition: As a Green Approach Suresh Patil., S. Jadhav and U. Patil Organic Research Laboratory, PG Department of Chemistry, PDVP College, Tasgaon, Sangli, India ABSTRACT The reaction of primary aromatic amines with aryl aldehydes is found to be catalyzed by lemon juice as natural acid under solvent-free conditions to give the corresponding Schiff bases in good yields. This eco-friendly reaction has many advantages like economical, environmental, mild reaction conditions and simple work-up with high product yield. Keywords: Schiff base, imines, lemon juice, natural acid.

INTRODUCTION Development of non-hazardous synthetic methodologies for organic synthesis is one of the latest challenges to organic chemists. The growing concern for the environment demands the development of eco-friendly and economic processes wherein even less hazardous byproducts are not desirable. Organic reactions under solvent-free conditions have gained in popularity in recent years1 since the majority of solvents are either toxic or flammable and add considerably to the cost of an overall synthesis. These solvent-free reactions usually need shorter reaction times, simpler reactors, resulting simpler and more efficient work up procedures, more improved selectivities and easier separations and purifications than conventional solvents2,3. The formation of carbon nitrogen double bond plays important role in organic synthesis. This can be achieved by the reaction of aldehydes and amines in acidic medium which leads to synthesis of Schiff bases (imines). Schiff bases have attracted considerable attention of organic chemists due to their significant biological activities like anticancer4, antitumor5, anti-inflammatory agents6, insecticidal7, antibacterial8, antituberculosis9, antimicrobial10, anticonvulsant11 activity.

The Schiff bases are also used as versatile components in nucleophilic addition with organometallic reagents12 and in cycloaddition reactions13,14. If we focus on the mechanism of transformation of aldehydes and amines in to Schiff bases, two synthetic methods are possible which are mechanized in Scheme-II. In method I, there is nucleophilic attack of primary amine on carbonyl carbon affords hydroxyl compound which on dehydration gives Schiff bases.

The formation of Schiff bases in the second step largely depends upon the rate of removal of water from reaction mixture. Originally, the classical synthetic route for synthesis of Schiff bases was reported by Schiff15 which involves condensation of primary amines with carbonyl compounds under azeotropic distillation16 with the simultaneous removal of water. The removal of water during this condensation also conventionally facilitated by using molecular sieves or a Dean-Stark apparatus17. In the literature, for removal of water in situ dehydration method has been employed by using dehydrating solvents such as tetramethyl orthosilicate18 and trimethyl orthoformate19. Scholars Research Library 1074 74 Suresh Patil et al Arch.